Pages

Klik Aja deh

SELAMAT DATANG DI WEB TIDAK RESMI KABUPATEN SLEMAN

Rabu, 18 Januari 2012

Cara Berhitung Cepat yang Berguna Buat Anda

1. Perkalian 9, 99, atau 999

Mengalikan dengan 9 sebenarnya adalah mengalikan dengan 10-1.
Jadi, 9×9 sama saja dengan 9 x (10-1) = 9×10-9 = 90-9 = 81.
Ayo coba contoh yang lebih sulit:
46×9 = 46× (10-1) = 460-46 = 414.
Satu contoh lagi:
68×9 = 680-68 = 612.
Untuk perkalian 99, artinya kita mengalikan dengan 100-1.
Jadi, 46×99 = 46 x (100-1) = 4600-46 = 4554.
Kalo udah gitu, kalian semua pasti tahu bahwa perkalian 999 sama dengan perkalian 1000-1
38×999 = 38 x (1000-1) = 38000-38 = 37962.
Masih bisa ngikuti? ayo kita lanjut

Jumat, 30 September 2011

INILAH 10 KOTA PALING AMAN DI INDONESIA

10. MAKASSARIbukota dari: Provinsi Sulawesi SelatanKoordinat:. 5°8′ LS 119°25′ BTLuas: 128,18 km²Penduduk: 1,25 juta jiwa


Kota terbesar di Pulau Sulawesi ini berada di pesisir barat daya, menghadap Selat Makassar. Makassar dikenal mempunyai Pantai Losari yang indah. Makassar berbatasan Selat Makassar di sebelah barat, Kabupaten Kepulauan Pangkajene di sebelah utara, Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Kota ini termasuk kota kosmopolis, banyak suku bangsa tinggal di sini- suku Makassar,Bugis,Toraja, Mandar, dan komunitas Tionghoa yang cukup besar. Makanan khas Makassar adalah Coto Makassar, Roti Maros, Kue Tori', Palabutung,Pisang Ijo, Sop Saudara, dan Sop Konro.

Rabu, 28 September 2011

Tour de Merapi akan digelar pada tgl. 30 Oktober 2011



Kabupaten Sleman kembali akan menggelar event rally motor wisata bertajuk Tour de Merapi (TDM) 2011, Minggu 30 Oktober 2011 mendatang. TDM kali ini mengambil start Lapangan Pemda Sleman dan finish di Museum Gunungapi Merapi (MGM). Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman Drs. Untoro Budiharjo, Jum’at 16 September 2011 dikantornya Jl. KRT Pringgodiningrat No.13 Beran Tridadi Sleman.

Senin, 18 Juli 2011

Kemungkinan Perbedaan 1 Syawwal




Yogyakarta- Kemungkinan besar adanya perbedaan penentapan tanggal 1 Syawwal 1432 Hijriyah, seluruh warga Muhammadiyah dihimbau untuk tetap berpegang pada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang telah menetapkan 1 Syawwal 1432 H, akan jatuh pada 30 Agustus 2011. Perbedaan metode yang diterapkan memungkinkan perbedaan penetapan yang akan dilakukan pemerintah, yang diperkirakan akan menetapkan pada tanggal 31 Agustus 2011.
Demikian disampaikan wakil ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Oman Faturrahman, dalam konferensi pers penetapan awal Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah tahun 1432 Hijriyah yang diadakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah di gedung PP Muhammadiyah Jl. Cik Di Tiro no.23 Yogyakarta, Kamis, (14/07/2011). Dalam kenferensi pers tersebut, Oman Fatuttahman didampingi oleh ketua PP Muhammadiyah Yunahar Ilyas yang menyampaikan Maklumat mengenai penetapan awal bulan Ramadhan, Syawwal, dan Dzulhijjah, serta himbauan selama datangnya Ramadhan bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam pada umumnya. Mengenai kemungkinan perbedaan penetapan 1 Syawwal 1432H, Oman mengungkapkan, selama pemerintah menggunakan Imkanu Rukyat dengan mensyaratkan 2 derajat, maka perbedaan pasti akan terjadi. "Selama ini Muhammadiyah menggunakan metode Wujudul Hilal yang berarti berapapun derajatnya, apabila hilal telah wujud, maka dipastikan esoknya merupakan awal bulan," jelasnya.
Lebih lanjut menurut Oman, metode melihat langsung atau rukyat akan sangat susah dilaksanakan apabila ketinggian hilal masih dibawah 5 derajat, padahal pada waktu 1 syawwal 1432 H nanti, ketinggian hilal masih diposisi 1 derajat. "Selama ini ahli astronomi dunia masih menyangsikan kemampuan manusia dalam melihat hilal diposisi kurang dari 5 derajat, rekor melihat hilal sampai saat ini adalah di angka 5 derajat," ungkapnya.

Minggu, 03 Juli 2011

Upacara Adat Labuhan Merapi



Laporan wartawan Tribun Jogja/jsa
Jalan menuju Alas Bedengan, lokasi upacara adat Labuhan Merapi pada Minggu (3/7/2011) menanjak cukup terjal. Jaraknya juga tidak bisa dibilang dekat. Peserta upacara adat maupun wisatawan tidak bisa menempuhnya dengan kendaraan, melainkan harus berjalan kaki.

Dalam perjalanan mendaki, tidak sedikit wisatawan yang kelelahan dan duduk beristirahat. Cukup banyak pula yang menyerah tidak mengikuti rombongan peserta Labuhan Merapi dan kembali turun.

Namun tidak demikian dengan salah satu abdi dalem Kraton Yogyakarta, Minten Joyo Saputro (77). Nenek yang sudah lama menjadi abdi dalem ini berjalan mendaki ke lokasi Labuhan Merapi di Alas Bedhengan, Dusun Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman itu tanpa alas kaki. Ia mengaku berjalan terus ke atas tanpa beristirahat dan juga tidak merasa lelah. Saat ditemui wartawan usai upacara pun ia terlihat tenang.

"Mantep kalih percoyo. Lebetke manah, mesti kuat (Kita harus mantap dan percaya. Masukkan itu ke dalam pikiran, pasti akan kuat)," ujar nenek bertubuh mungil itu. Satu hal yang menjadi kunci adalah niat. "Kalau niat di hati kuat, pasti bisa!" kata dia lagi.

Kekuatan niat itu, kata dia, juga menjadi kunci dalam menjalani kehidupan sehari-hari. "Saat sakit, kalau kita berniat mantap untuk sembuh, pasti akan sembuh. Begitu juga dengan kesulitan di dalam kehidupan," ujar nenek itu penuh wibawa. Hingga usianya saat ini, Minten masih rajin berolahraga. "Saya sehat dan rajin berolahraga, seperti senam dan jalan," ujarnya.

Seorang abdi dalem lainnya, Suminah (40) juga terlihat segar bugar usai menjalani upacara Labuhan Merapi. Sinden yang sudah empat mengabdi pada Kraton Yogyakarta itu berjalan mendaki ke lokasi Labuhan Merapi tanpa mengenakan alas kaki. Ia juga tidak beristirahat di tengah perjalanan meskipun semalam sebelumnya ia ikut menyumbangkan suaranya dalam pagelaran wayang kulit yang digelar semalam suntuk.

Seorang abdi dalem laki-laki, Mas Eko Sugiantoro mengaskan, keyakinan menjadi satu hal yang penting. "Kalau yakin saya kuat, pasti kuat. Kalau berpikir capai, ya capai," ujar abdi dalem bertubuh tegap itu.

Jalan mendaki ke lokasi Labuhan Merapi dari bekas rumah Mbah Maridjan hanya sekitar dua meter lebarnya. Tanahnya berpasir. Di beberapa tempat, pasir itu masih sangat tebal sehingga langkah kaki pun lebih berat.

Sisi kanan dan kirinya dibatasi dengan seutas tali rafia berwarna merah. Tebing yang curam langsung terlihat di sisi kanan dan kiri jalur itu.

Beberapa anggota keamanan berjaga di beberapa titik, anggota kepolisian, Tagana, Tim SAR, Saluran Komunikasi Sosial Bersama (SKSB), Jogja Magelang Elektronik (JME), dan beberapa kelompok lainnya. "Cuaca tadi pagi cerah, tidak mendung seperti biasanya," ujar Kapolsek Cangkringan, AKP Sudalidjo. Hal itu membuat proses berlangsungnya upacara adat Labuhan Merapi menjadi lebih aman.

Salah satu kelompok yang ikut membantu proses pembuatan lokasi Labuhan Merapi sekaligus jalan menuju ke sana adalah JME. Koordinator lapangan JME, Agus Wijayanta mengatakan, pihaknya membantu proses pembuatan lokasi sekitar dua bulan sebelum upacara adat dimulai. "Saat itu masih berbentuk gundukan material yang harus kita buka agar menjadi seperti lapangan. Ukurannya sekitar enam kali 20 meter," kata Agus.

Proses pembuatan itu kemudian dibantu juga oleh beberapa kelompok lain, antara lain Tim SAR Djiephatsong, SKSB, Tagana, dan Tim Sarda DIY. "Langkah selanjutnya membuka alur untuk pejalan kaki," lanjut Agus. 


sumber